Sebelum masuk ke cerita, saya kenalin dulu tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita.

Boa, berbadan tambun. Rambut standar anak sekolahan. Kulit, hmm, gak terlalu hitam. Apa adanya. Yang jelas orangnya asik.

Aux, badannya biasa-biasa aja. Rambut juga biasa-biasa aja. Kulit, yaa, biasa-biasa aja. Orangnya, biasa-biasa juga sih tapi tetep asik.
Sedangkan saya sendiri, berbadan tipe ikan asin. Kering Kerontang. Rambut layaknya rajutan benang yang indah... indah banget sampe kalo kalian liat pengen ngejambak. Sedikit informasi, rambut saya ini bener-bener mahkota buat saya. Soalnya kalo saya botak bisa keliatan banget kalo saya punya jidat yang lebar kayak lapangan golf. Tapi menurut saya ini aset yang berharga banget. Soalnya ketika saya mengalami kesulitan ekonomi, saya bisa menyewakan jidat saya buat dipake maen golf.

Jam setengah tujuh pagi, seperti biasanya, saya pamitan dulu sama kedua orang tua buat berangkat sekolah. Di perjalanan, saya mendapatkan “wahyu” yang gak jelas asal-usulnya dari mana. Pokoknya isi wahyu itu membuat saya gak mau langsung ke sekolah. Saya jadi tiba-tiba berbelok arah ke rumahnya Aux. Niatnya sih pengen berangkat bareng.
Sesampainya di rumah Aux, saya ngeliat ada teman saya yang satu lagi, si Boa. Badannya yang gak pantes banget kalau di bilang kecil itu lagi terbaring di sofa berwarna coklat. Saya sebenernya gak mau buka sepatu, saya tahu ini bakal menyebarkan semerbak aroma yang aneh di ruangan itu Tapi karena ngeliat mukanya Boa yang asoy tiduran di sofa, saya jadi tergoda. Tapi bukan tergoda sama Boa, saya tergoda buat tiduran di sofa.
Awalnya kami bertiga bersemangat berangkat sekolah, tapi keadaannya berubah sewaktu kami lagi pake sepatu. Kami saling bertatap mata satu sama lain. Seakan mata kami bicara, “Mending gak usah ke sekolah, mending diem aja di sini. Ngapain ke sekolah juga.”
Karena kami ini tergolong anak yang baik dan penurut, kami pun menurutinya. Kalian tau? KAMI GAK JADI SEKOLAH!!! Kami kembali melepas sepatu, dan untuk kedua kalinya ruangan itu beraroma terapi. Aroma terapi buat orang yang pengen cepet mati.
Di kamar Aux, kami saling ngeroko tapi dengan rokonya masing-masing. Roko saya di roko oleh saya sendiri sedangkan saya tidak di roko oleh siapapun. Begitu pun dengan Aux dan Boa.
Keadaan kembali berubah, kami ngeliat jam dinding yang ada dikamar. Waktu masih menunjukan jam setengah delapan pagi. Keadaan hening buat beberapa detik.
Hening…
Bener-bener hening…
…
…
…
Woi, mana ini teks selanjutnya?
Kemudian kami melakukan pembicaraan via mata kembali, kami saling menatap satu sama lain, kali ini mata kami seakan berbicara, “Mending kita ke sekolah aja yuk, kayaknya masih keburu deh. Kalau gak sekolah nanti kita bisa kena marah.”
Kayaknya waktu pertama tadi setan yang bisikin mata kami deh. Tapi buat kali ini, malaikat yang berbisik ke mata kami (lho, kalau bisik-bisik kan ke telinga? Kenapa ke mata?).
Jarak dari rumah Aux ke sekolah gak begitu melelahkan sih kalau naik motor atau mobil (ya iya lah, orang tinggal nyimpen pantat doang), tapi kalau jalan kaki jaraknya bikin keringet pada berkeliaran, “lumayan lah”. Kami bergegas jalan cepat ngelewatin gang yang banyak anak-anak sama ibu-ibu yang lagi bertransaksi dengan tukang sayur.
Dengan nafas terengah-engah, kami hampir tiba di sekolah. Sekarang waktu udah menunjukan jam setengah delapan lebih lima belas menit (kalau di sederhanakan jadi jam 07.45). Emang udah terlambat sih, tapi udah terlanjur basah. Akhirnya kami sepakat membulatkan tekad untuk tetap meneruskan perjalanan kami yang sangat menyiksa kaki itu. SEMANGAT!!!
Tinggal menyebrang jalan raya saja kami udah sampai di sekolah, tapi sebelum kami melangkahkan kaki lebih jauh lagi, kami melihat sesosok manusia berkemeja (tentunya bercelana juga) sedang menyilangkan tangannya di depan dadanya. Wow, he is POKEMON!!! (Pokemon adalah gelar yang diberikan para siswa kepada guru killer ini).
Sialnya, Pokemon melihat kearah kami bertiga sambil menunjuk dan berkata
“Jangan lari kalian, siniiii!!!”
Teriakan Pokemon tadi bukan bikin saya, Boa dan Aux berdiam diri. Teriakannya malah membuat kami seperti atlet lari.
Bersedia…
Siap…
Doorr… Dan kami pun berlari layaknya pelari nasional, Tatang Suriatmaja (eh, saya ngasal lho. Soalnya saya gak tau nama pelari nasionalnya. SOTOY!!!).
Melewati gang yang sama, kami berlari cepat sekali. Begitu cepatnya, semua mata tertuju pada kami. Ibu-ibu yang ada di gang itu pun “kukulutus teu pararuguh” seraya mengeluarkan sumpah serapahnya melihat kami berlari tidak terkendali.
Ternyata, Pokemon itu mengejar kami. Dia tidak kalah cepatnya. Mukanya sangat berambisi menangkap kami. Seperti singa yang gagah, perkasa, jantan, tangguh, bersayap, bertanduk (Perasaan singa gak ada sayap sama tanduknya deh?) mengejar mangsanya seekor kijang yang lemah tak berdaya.
Diakibatkan karena badan yang gak pantes di bilang kecil, langsing apalagi kurus, Boa menyerah di tengah jalan. Tapi saya sama Aux gak mau kalo Boa jadi mangsa singa itu. Soalnya Boa kan gak pantes jadi kijang, dia lebih pantes jadi gajah.
Cara terbaik supaya Boa mau lari lagi adalah dengan terus nyemangatinnya. Saya dan Aux pun terus memberikan semangat kayak ke anak kecil yang baru belajar sepeda.
“Biarkan aku saja yang menjadi korban, kalian selamatkan saja jiwa kalian, biar ku hadang dia”. Dengan nada layaknya seorang superhero itu, Boa nyuruh saya sama Aux buat tetep kabur.
“Hati-hati ya, Bo. Jaga dirimu baik-baik”
Cuma itu yang bisa saya ucapkan setelah saya mendengar kata-kata Boa yang heroik itu. Saya terharu. Hiks… Hiks… Hiks… NAJIS!!!
Akhirnya Pokemon datang dan menangkap Boa. Boa langsung di giring ke kantor sekolah, untuk diadili atas perbuatannya yang telah melanggar undang-undang persekolahan.
Keesokan harinya Boa menceritakan pengalaman horornya berada di kantor sekolah itu. Dia bersyukur karena tidak ditelanjangi atau dipukuli. Semenjak kejadian itu kami tambah malas untuk bersekolah. Tapi saya menyarankan jangan ditiru… tanpa sengetahuan ahlinya.
Ini semua akibat plin-plan. Mulai dari hari itu, saya coba buat gak plin-plan lagi. Tapi ternyata sulit. Ternyata menjilat ludah sendiri itu terkadang menjadi kebiasaan. Di hari selanjutnya, semoga saya menghentikan kebiasaan itu.
Amin…
0 komentar:
Posting Komentar