Ada sebuah kisah nyata yang sangat menyentuh hati dan memberi pelajaran bagi mereka yang menggunakan akal dan hatinya. Singkat cerita, ada sebuah kejuaraan lari 400 meter di Barcelona Summer Olmpics. Diantara pelari yang berlomba disana, ada seorang pemuda keturunan kulit hitam bernama Derek Redmond yang diunggulkan memenangkan lomba tersebut.
Bukan tanpa sebab ia diunggulkan, tapi karena memang ia berlari begitu kencang. Ia berlari dan terus berlari hingga tak terasa garis finish pun terlihat begitu dekat. Namun, kekecewaan datang sekitar 250 meter dari finish. Tiba-tiba ia berjalan tertatih-tatih, terlihat dari tampangnya ia sangat kesakitan. Rupanya, cedera hamstring merobeknya. Larinya pun perlahan melambat dengan tertatih-tatih dan kemudian jatuh ke tanah... kesakitan.
Ia tertunduk meratapi kekalahannya. Mukanya sangat jelas memperlihatkan ekspresi kekecewaan. Sesekali bahunya berguncang, menahan tangisan dan amarah yang bercampur. Tim medis dan pembawa tandu pun segera menghampirinya. Tapi Si Pelari itu tidak ingin diangkat keluar lintasan. Meskipun sakit, dia berdiri dan mulai berjalan pincang sepanjang trek. Spontan, tim medis dan para penonton yang ada disitu tercengang melihat Si Pelari.
Dengan terpincang-pincang, dia terus berlari, sembari menahan sakit yang amat luar biasa yang menimpa kakinya itu. Lalu, seorang pria besar melalui kerumunan orang-orang yang ditahan oleh keamanan disitu menghampiri Si Pelari Pincang. Pria itu ayahnya. "Kamu tidak perlu meneruskan ini," ia mengatakan kepada anaknya sambil menangis. "Saya harus lakukan," Sang Anak menegaskan kepada bapaknya. "Baiklah kalau begitu," jawab ayahnya, "kita akan menyelesaikan ini... bersama-sama!" Sang Ayah memeluk anaknya dan membantunya berjalan pincang melintasi trek itu.
Sang Anak menangis diatas bahu ayahnya. Ayahnya pun pasti ingin menangis, tapi dia tetap tegar. Sama seperti ayah kita bukan? Yang selalu terlihat tegar dihadapan kita? Padahal di balik tegarnya itu tersempil rasa lain, rasa haru. Ayahnya terus menyemangati dan membantunya. Terus meyakinkan anaknya, bahwa dia bisa! Tim medis menghampiri mereka, tim medis menyarankan agar menyudahi semua itu. Tapi ayahnya dengan tegas berkata, "DIAM dan TUTUP MULUTMU!!"
Sesaat sebelum garis finish ayahnya melepaskan sang anak dan sang anak itu menyelesaikan lomba... dengan tepuk tangan meriah dari 65.000 kerumunan penonton. Derek Redmond mungkin tidak menjadi yang pertama... tetapi ia berhasil menyelesaikan perlombaan! Meskipun dengan sakit, meskipun dengan air mata... ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Dimotivasi oleh cinta yang begitu kuat dari seorang ayah yang mengangkat dia ketika dia jatuh.
Apa yang membuat ayahnya melakukan itu? Meninggalkan kursinya lalu berdiri dan menemui anaknya pada lintasan? Itu karena rasa sakit di wajah anaknya. Anaknya yang sedang kesakitan... tetapi ingin menyelesaikan perlombaan. Lalu, ayahnya datang untuk membantu dia menyelesaikan semuanya.
Tuhan pun sama seperti itu. Ketika kita sakit dan berjuang untuk menyelesaikan, ia pasti datang dan membantu kita. Itu pasti!!! Bagaimana dengan anda? Bagaimana dengan "perlombaan" anda? Apakah Anda dalam kesakitan? Apakah Anda di ambang berhenti? Tuhan ingin anda untuk menyelesaikannya dengan kuat... karena Dia mencintai anda. Apakah anda membuka hati anda padaNya?
Renungan untuk pemilik akal dan hati...
Selanjutnya..
Dari Aku Untuk Saya
Siapa designer terhandal??
Siapa arsitektur ter-detail??
Siapa sutradara terpercaya??
Siapa pengintai terlihai??
Siapa? Siapaaaaaaa?!! Jawab!!!
Apa bedanya engkau dengan kambing? Apa bedanya engkau dengan keledai? Cuma satu yang membedakanmu, kau punya akal. Oleh karena itu, BERFIKIRLAH!!! Kalau kau masih belum tau jawabannya, belajar agama lagi saja kau!!
Kau lupa dengan tuhanmu? Kau sengaja melupakannya? Atau tidak sengaja? Ah, tetap saja kau telah lupa padanya. Padahal Dia tak pernah sedetik pun lupa padamu. Dia selalu melihat apa yang kau lakukan, mendengar apa yang kau ucapkan, mengetahui apa yang kau niatkan. Semut hitam yang berjalan dimalam hari diatas batu hitam pun tak pernah luput dari pandangannya. Apalagi kau, yang hanya seonggok tulang terbalut daging.
Lihat sekelilingmu, banyak bukti kuasanya. Betapa buah pisang sangat sempurna Ia ciptakan. Daging yang lembut dan dibalut dengan cangkang agar dagingnya selalu bersih. Sanggat sempurna. Buah salak, begitu sempurnanya buah itu. Tuhan sengaja memberi cangkang dengan duri-duri kecil agar kita selalu hati-hati. Selain itu dagingnya dilapisi plastik karya tuhan yang dijamin tanpa bahan tekstil atau apalah yang membahayakan. Durian pun sama sempurnanya dengan pisang. Tuhan tidak salah men-design pisang dan durian. Tuhan tidak terbalik menempatkan cangkang untuk pisang dan cangkang untuk durian. Maka, nikmat tuhan mana yang engkau dustakan?
Apa yang kau bawa saat kau pertama kali melihat dunia? TIDAK ADA!!! Kau tak pernah membawa apa-apa. Begitupun saat kau mati. Kau tak akan bisa membawa apa-apa. Kita tak pernah menanam apa-apa, dan kita tak kan pernah kehilangan apa-apa. Jadi, mengapa kau selalu bermuram durja ketika sesuatu yang kau miliki telah tiada? Semua yang ada didunia ini adalah milikNya. Ragamu pun bukan milikmu. Kenapa harus sedih? Apakah dengan bersedih semua akan kembali lagi? TENTU TIDAK. 3 hal yang tak bisa kembali; waktu yang berlalu, kata yang terucap, dan moment yang terlewatkan. Lalu, mengapa kau harus menangis, karna tangisanmu tak kan merubah apapun. Kecuali, DO'A dan DZIKIRMU!!! Lebih efektif mana, menangis dengan berdo'a? Bersedih dengan berdzikir? Kau lupa, mintalah bantuanNya. Bukankah Dia maha pengasih lagi maha penyayang? Waktumu terlalu sayang dihabiskan hanya untuk menangisi sesuatu yang bukan milikmu. Satu-satunya hal yang kau miliki adalah AMAL dan DOSA. Kedua itu murni hanya milikmu. Maka wajar kau bersedih saat amalmu berkurang. Wajar pula kau menangis saat dosa mu bertambah.
Tugasmu didunia sebenarnya tidak banyak, cukup lakukan apa yang diperintah dan jauhi apa yang dilarang. Hanya itu. Kenapa harus mengharapkan prestise dari makhluk bernama manusia? Kenapa perlu meminta perhatian dari makhluk bernama manusia? Kenapa ingin dicintai oleh makhluk bernama manusia? Kenapa? Kenapaaaaa!!! Cukup tuhanmu yang memberikan prestise dan perhatian, juga rasa cintanya untukmu.
Gunakanlah akalmu itu. Bersandarlah hanya padaNya. Lakukanlah semua dengan niat mencari RidhoNya, maka kebaikan dunia akan kau dapat, jika didunia tidak kau dapatkan, pasti diakhirat. Itu pasti. Tuhan bukan pembual!!!
Tulisan ini hanya aku persembahkan untuk saya Selanjutnya..
Siapa arsitektur ter-detail??
Siapa sutradara terpercaya??
Siapa pengintai terlihai??
Siapa? Siapaaaaaaa?!! Jawab!!!
Apa bedanya engkau dengan kambing? Apa bedanya engkau dengan keledai? Cuma satu yang membedakanmu, kau punya akal. Oleh karena itu, BERFIKIRLAH!!! Kalau kau masih belum tau jawabannya, belajar agama lagi saja kau!!
Kau lupa dengan tuhanmu? Kau sengaja melupakannya? Atau tidak sengaja? Ah, tetap saja kau telah lupa padanya. Padahal Dia tak pernah sedetik pun lupa padamu. Dia selalu melihat apa yang kau lakukan, mendengar apa yang kau ucapkan, mengetahui apa yang kau niatkan. Semut hitam yang berjalan dimalam hari diatas batu hitam pun tak pernah luput dari pandangannya. Apalagi kau, yang hanya seonggok tulang terbalut daging.
Lihat sekelilingmu, banyak bukti kuasanya. Betapa buah pisang sangat sempurna Ia ciptakan. Daging yang lembut dan dibalut dengan cangkang agar dagingnya selalu bersih. Sanggat sempurna. Buah salak, begitu sempurnanya buah itu. Tuhan sengaja memberi cangkang dengan duri-duri kecil agar kita selalu hati-hati. Selain itu dagingnya dilapisi plastik karya tuhan yang dijamin tanpa bahan tekstil atau apalah yang membahayakan. Durian pun sama sempurnanya dengan pisang. Tuhan tidak salah men-design pisang dan durian. Tuhan tidak terbalik menempatkan cangkang untuk pisang dan cangkang untuk durian. Maka, nikmat tuhan mana yang engkau dustakan?
Apa yang kau bawa saat kau pertama kali melihat dunia? TIDAK ADA!!! Kau tak pernah membawa apa-apa. Begitupun saat kau mati. Kau tak akan bisa membawa apa-apa. Kita tak pernah menanam apa-apa, dan kita tak kan pernah kehilangan apa-apa. Jadi, mengapa kau selalu bermuram durja ketika sesuatu yang kau miliki telah tiada? Semua yang ada didunia ini adalah milikNya. Ragamu pun bukan milikmu. Kenapa harus sedih? Apakah dengan bersedih semua akan kembali lagi? TENTU TIDAK. 3 hal yang tak bisa kembali; waktu yang berlalu, kata yang terucap, dan moment yang terlewatkan. Lalu, mengapa kau harus menangis, karna tangisanmu tak kan merubah apapun. Kecuali, DO'A dan DZIKIRMU!!! Lebih efektif mana, menangis dengan berdo'a? Bersedih dengan berdzikir? Kau lupa, mintalah bantuanNya. Bukankah Dia maha pengasih lagi maha penyayang? Waktumu terlalu sayang dihabiskan hanya untuk menangisi sesuatu yang bukan milikmu. Satu-satunya hal yang kau miliki adalah AMAL dan DOSA. Kedua itu murni hanya milikmu. Maka wajar kau bersedih saat amalmu berkurang. Wajar pula kau menangis saat dosa mu bertambah.
Tugasmu didunia sebenarnya tidak banyak, cukup lakukan apa yang diperintah dan jauhi apa yang dilarang. Hanya itu. Kenapa harus mengharapkan prestise dari makhluk bernama manusia? Kenapa perlu meminta perhatian dari makhluk bernama manusia? Kenapa ingin dicintai oleh makhluk bernama manusia? Kenapa? Kenapaaaaa!!! Cukup tuhanmu yang memberikan prestise dan perhatian, juga rasa cintanya untukmu.
Gunakanlah akalmu itu. Bersandarlah hanya padaNya. Lakukanlah semua dengan niat mencari RidhoNya, maka kebaikan dunia akan kau dapat, jika didunia tidak kau dapatkan, pasti diakhirat. Itu pasti. Tuhan bukan pembual!!!
Tulisan ini hanya aku persembahkan untuk saya Selanjutnya..
Surat Untuk Kawan
Untukmu, Kawanku
Kawan,
Kenapa kau sering menjumpaiku ditengah jalan?
Rindukah engkau padaku?
Kawan,
Kenapa tidak nanti saja ketika aku sampai tujuan?
Sebegitu rindukah engkau padaku?
Kawan,
Sungguh aku senang akan kedatanganmu
Tapi kekasih dan keluargaku pasti cemas atas perjumpaan kita
Kawan,
Terkadang suaramu begitu menyeramkan
Tapi terkadang juga begitu menyejukan
Kawan,
Bersikap ramahlah padaku
Pastinya pada dunia juga
Dari aku,
Pria berkuda besi hitam
Yang diguyur hujan Selanjutnya..
Kawan,
Kenapa kau sering menjumpaiku ditengah jalan?
Rindukah engkau padaku?
Kawan,
Kenapa tidak nanti saja ketika aku sampai tujuan?
Sebegitu rindukah engkau padaku?
Kawan,
Sungguh aku senang akan kedatanganmu
Tapi kekasih dan keluargaku pasti cemas atas perjumpaan kita
Kawan,
Terkadang suaramu begitu menyeramkan
Tapi terkadang juga begitu menyejukan
Kawan,
Bersikap ramahlah padaku
Pastinya pada dunia juga
Dari aku,
Pria berkuda besi hitam
Yang diguyur hujan Selanjutnya..
Reuni 4 Sekawan
Disini. Ya, Disini. Dimana matahari yang terkadang kurang bersahabat denganku tidak mungkin muncul. Karena aku disini sedang bersama malam. Aku tidak sendirian. Setidaknya ada 3 kawanku disini. Sekalian ajang reuni bagi kami. Aku, Kopi Hitam, Eddie Vadder, dan Hujan. Kami berempat menghabiskan malam dengan obrolan yang santai.
Kopi Hitam bertanya padaku, "Kemana aja?"
"Ada", aku jawab santai.
"Kau rindu aku yah? Rindu pertemuan ini?", Hujan bertanya dengan nada percaya diri dan sedikit narsis.
Tidak langsung ku jawab. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu memandanginya, dan mencoba menjawab jujur, “I'm really miss this time”.
Mereka terlihat senyum, mungkin mereka merasakan apa yang kurasakan. Lalu hujan bertanya lagi, "Kenapa baru sekarang kau menemui Eddie Vadder?"
"Iya, kenapa baru sekarang kau menemuiku?”, yang dibicarakan pun ikut nimbrung.
"Mungkin baru sekarang waktunya.” Aku mulai membeberkan kerinduan, “Hmm, aku tak mau malam ini habis.”
“Ingatlah kawan, dimana ada siang pasti ada malam. Ada naik pasti ada turun. Ada awal pasti ada akhir. Pertemuan kita ini pun pasti akan berakhir”, Kopi Hitam bicara dengan bijak menasehatiku. “Aku pun akan tidak panas lagi dan akan habis", dia melanjutkan.
Dengan tampang yang sedikit mengeluh Hujan meneruskan, “Aku pun akan pergi lagi, tidak selamanya aku ada disini”
"Benar juga, tak ada yang abadi. Tapi sudikah kalian menemaniku sampai malam ini berakhir? Setidaknya sampai aku terlelap?"
"SIAP!!" Mereka bertiga serentak menjawab.
Kami banyak bicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hingga tak terasa matahari akan kembali bertugas dan rasa kantuk pun mulai mendatangiku. Ku rebahkan badan dikasur tanpa pamit pada Kopi Hitam, Hujan, dan Eddie Vadder. Si Kopi pun sudah dingin dan tersisa ampasnya saja. Sang hujan dengan perlahan mulai pergi dan menghilang. Mungkin hanya Eddie Vadder yang akan setia menemaniku. "Sudah, tutup matamu. Aku tak kan pergi sebelum baterai ini habis", Eddie Vadder rupanya tau maksudku yang sudah mengantuk ini.
"Kurasa teman kita ada yang tidak datang?", aku bertanya padanya.
"Siapa?"
"Rokok"
"Sudahlah, matahari sebentar lagi tiba"
"Eddie?"
"Apa?"
"Terima kasih yah"
Eddie Vadder tak menjawab. "Eddie?”, tanyaku lagi.
"Apa?"
"Sampaikan rasa terima kasihku juga untuk Kopi Hitam dan Hujan, katakan pada mereka bahwa aku senang malam ini. Salamkan juga salamku untuk Rokok."
"Iya. Sekarang, segeralah kau tidur."
"Eddie?"
"Apa lagi?"
"Kapan kita bisa reuni seperti ini lagi?"
".....”
"Ya sudah, aku tidur" Selanjutnya..
Kopi Hitam bertanya padaku, "Kemana aja?"
"Ada", aku jawab santai.
"Kau rindu aku yah? Rindu pertemuan ini?", Hujan bertanya dengan nada percaya diri dan sedikit narsis.
Tidak langsung ku jawab. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu memandanginya, dan mencoba menjawab jujur, “I'm really miss this time”.
Mereka terlihat senyum, mungkin mereka merasakan apa yang kurasakan. Lalu hujan bertanya lagi, "Kenapa baru sekarang kau menemui Eddie Vadder?"
"Iya, kenapa baru sekarang kau menemuiku?”, yang dibicarakan pun ikut nimbrung.
"Mungkin baru sekarang waktunya.” Aku mulai membeberkan kerinduan, “Hmm, aku tak mau malam ini habis.”
“Ingatlah kawan, dimana ada siang pasti ada malam. Ada naik pasti ada turun. Ada awal pasti ada akhir. Pertemuan kita ini pun pasti akan berakhir”, Kopi Hitam bicara dengan bijak menasehatiku. “Aku pun akan tidak panas lagi dan akan habis", dia melanjutkan.
Dengan tampang yang sedikit mengeluh Hujan meneruskan, “Aku pun akan pergi lagi, tidak selamanya aku ada disini”
"Benar juga, tak ada yang abadi. Tapi sudikah kalian menemaniku sampai malam ini berakhir? Setidaknya sampai aku terlelap?"
"SIAP!!" Mereka bertiga serentak menjawab.
Kami banyak bicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hingga tak terasa matahari akan kembali bertugas dan rasa kantuk pun mulai mendatangiku. Ku rebahkan badan dikasur tanpa pamit pada Kopi Hitam, Hujan, dan Eddie Vadder. Si Kopi pun sudah dingin dan tersisa ampasnya saja. Sang hujan dengan perlahan mulai pergi dan menghilang. Mungkin hanya Eddie Vadder yang akan setia menemaniku. "Sudah, tutup matamu. Aku tak kan pergi sebelum baterai ini habis", Eddie Vadder rupanya tau maksudku yang sudah mengantuk ini.
"Kurasa teman kita ada yang tidak datang?", aku bertanya padanya.
"Siapa?"
"Rokok"
"Sudahlah, matahari sebentar lagi tiba"
"Eddie?"
"Apa?"
"Terima kasih yah"
Eddie Vadder tak menjawab. "Eddie?”, tanyaku lagi.
"Apa?"
"Sampaikan rasa terima kasihku juga untuk Kopi Hitam dan Hujan, katakan pada mereka bahwa aku senang malam ini. Salamkan juga salamku untuk Rokok."
"Iya. Sekarang, segeralah kau tidur."
"Eddie?"
"Apa lagi?"
"Kapan kita bisa reuni seperti ini lagi?"
".....”
"Ya sudah, aku tidur" Selanjutnya..
Dialog di Hati
Mr. Lie sudah bersiap dengan segala persiapan dan sejuta kata-katanya, dengan penuh percaya diri dia segera menegakkan tubuh lalu mulai melangkahkan kakinya. Perlahan namun pasti, dia mulai mendekatiku. Di tengah jalan dia dihadang oleh Mr. Trust. Terjadi dialog diantara mereka. Aku tak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan:
Mr. Trust : "Mau kemana kau?"
Mr. Lie : "Aku ingin datang padanya."
Mr. Trust : "TIDAK BOLEH!! Mulai sekarang menjauhlah darinya."
Mr. Lie : "Apa pedulimu? Ini bukan urusanmu. Ini kesenanganku."
Mr. Trust : "Kesenangan bagimu adalah luka baginya. Karena sebenarnya yang diharapkan dia adalah aku, bukan kau!!"
Mr. Lie : "Buktinya, dia senang dengan kedatanganku."
Mr. Trust : "Dia mungkin bisa kau datangi, tapi nuraninya tak pernah menginginkan hadirmu. Jadi, akan selalu ada kegelisahan ketika kau bersama dia."
Mr. Lie : "Hmm, aku hanya ingin menyenangkan dia saja koq."
Mr. Trust : "Kalau kau ingin menyenangkan dia, silahkan jauhi dia, biarkan aku bersamanya. Percayalah, hanya aku yang dapat memberikan ketentraman jiwa."
Mr. Lie : "Kalau begitu, bolehkah jika sesekali aku menghampirinya karena rindu?"
Mr Trust : "TIDAK!!"
Mr. Lie : "Walaupun aku rindu?"
Mr. Trust : "TIDAK BOLEH!! Ini demi kebaikan dia."
Mr. Lie : .....
Entah apa yang mereka bicarakan hingga Mr. Lie tidak jadi menghampiriku. Aku tak tau apa yang mereka bicarakan karena aku tidak mendengar pembicaraan mereka. Selanjutnya..
Mr. Trust : "Mau kemana kau?"
Mr. Lie : "Aku ingin datang padanya."
Mr. Trust : "TIDAK BOLEH!! Mulai sekarang menjauhlah darinya."
Mr. Lie : "Apa pedulimu? Ini bukan urusanmu. Ini kesenanganku."
Mr. Trust : "Kesenangan bagimu adalah luka baginya. Karena sebenarnya yang diharapkan dia adalah aku, bukan kau!!"
Mr. Lie : "Buktinya, dia senang dengan kedatanganku."
Mr. Trust : "Dia mungkin bisa kau datangi, tapi nuraninya tak pernah menginginkan hadirmu. Jadi, akan selalu ada kegelisahan ketika kau bersama dia."
Mr. Lie : "Hmm, aku hanya ingin menyenangkan dia saja koq."
Mr. Trust : "Kalau kau ingin menyenangkan dia, silahkan jauhi dia, biarkan aku bersamanya. Percayalah, hanya aku yang dapat memberikan ketentraman jiwa."
Mr. Lie : "Kalau begitu, bolehkah jika sesekali aku menghampirinya karena rindu?"
Mr Trust : "TIDAK!!"
Mr. Lie : "Walaupun aku rindu?"
Mr. Trust : "TIDAK BOLEH!! Ini demi kebaikan dia."
Mr. Lie : .....
Entah apa yang mereka bicarakan hingga Mr. Lie tidak jadi menghampiriku. Aku tak tau apa yang mereka bicarakan karena aku tidak mendengar pembicaraan mereka. Selanjutnya..
Untuk "Mereka", "Kalian", "Itu", "Dia", dan "Nya".
Salah satu alamat hidup yang ingin aku singgahi adalah jalan kebebasan. Kebebasan yang hakiki. Dan apabila aku kesana, berarti aku harus berada di wilayah kenikmatan. Kenikmatan dan kebebasan itu memang terkait tapi tidak saling mempengaruhi. Karena nikmat belum tentu bebas dan bebas belum tentu nikmat. Sebelum menuju ke jalan kebebasan itu, aku harus sudah berada diwilayah kenikmatan.
Banyak cara menuju wilayah itu, salah satu caranya adalah dengan mensyukuri apa yang telah diberi, apa yang telah terlewati, dan apa yang akan dihadapi. Mungkin aku belum sampai disana karena aku kurang atau lupa untuk mensyukurinya. Dan berterima kasih merupakan bentuk syukur.
Oleh karena itu aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk "mereka". "Mereka" yang dulu pernah sepermainan denganku. Pernah merasakan masa jaya bersama saat putih-merah begitu dibanggakan. Pernah sama-sama berada disaat masa depan tak pernah dihiraukan. Pernah mencoba untuk "nakal" tapi tidak untuk menjadi "berandal". Pernah berkelahi denganku, walaupun sebenarnya masalah itu sepele. Dari sinilah cikal bakal cerita perjalanan hidup ini dimulai.
Selain "mereka", aku juga ingin dan seharusnya mengucapkan terima kasih untuk "kalian". "Kalian" yang pernah sejalan dan searah. Pernah selangkah dan seirama. Pernah membangunkan jiwa berontak ini. Berontak dari aturan. Berontak dari norma. Berontak dari ketidakadilan, walaupun kita sendiri sering membuat ketidakadilan itu. Baru kali ini aku menangisi sebuah kebersamaan. Menangis karena terharu terhadap kebersamaan ini. Belum pernah sebelumnya ini terjadi dalam hidupku. Aku rindu masa-masa itu. Aku tau, kalian pun sama. Walau tampak linu tapi rindu ini tak bisa dipungkiri. Masa putih-abu menggores warnanya sendiri dalam perjalanan ini untuk ku, pastinya untuk kalian juga. Terima kasih juga untuk "kalian" yang sekarang seperjuangan denganku mencari apa yang biasa disebut jati diri.
Rasa terima kasih ini pun harus saya berikan untuk "itu". Untuk "itu" yang berdiri tegap disana. Yang telah memberikan pelajaran kehidupan yang teramat berharga. Dan setidaknya mulai mengerti akan arti perjuangan. Perjuangan bukan hanya kata. Tindakan pun belum cukup jika tidak diiringi dengan mental yang sekuat baja. Pada gelapnya aku harus menerangkan hati. Pada dinginya aku harus menguatkan diri. Pada tingginya aku harus merendahkan hati. Pada indahnya aku harus bersyukur. Terima kasih karena engkau berdiri dengan gagahnya disana.
Selain itu aku harus juga berterima kasih pada "dia". "Dia" yang menjadi saksi hidup dalam perjalanan hidup ini. Dari aku yang dulu berlumur dan dilumuri dengan noda dosa, hingga sampai saat ini aku yang mulai membersihkan noda-noda itu. Sungguh hina dan tak tau malu ketika aku berani melupakannya untuk tidak berterima kasih. Terima kasih telah melihatku. Terima kasih telah memandangku. Terima kasih telah mendengarku. Terima kasih telah melarangku. Terima kasih karena telah menerima keegoisan dan ke-aku-anku. Aku perlu banyak belajar darimu tentang arti ketulusan yang sejati. Dirimu sudah sendirinya terpahat di satu sisi hati ini. Dan akan selalu ku jaga dan rawat pahatan itu.
Sampai aku berada di titik ini, aku takkan pernah berjalan sampai sini tanpa izin dari "Nya". Pada "Nya" lah harus ku curahkan semua rasa terima kasih ini. Terima kasih telah memberi kedua tangan yang kuat. Terima kasih telah memberi kedua kaki yang kokoh. Terima kasih telah memberi kedua mata yang indah. Terima kasih telah memberi kedua telinga yang sempurna. Terima kasih telah memberi satu mulut dan hidung yang fungsional. Terima kasih juga telah memberi raga yang tegap dan hati yang tegar. Terima kasih telah membawaku kembali ke jalanMu. Mudah-mudahan Engkau selalu menuntunku. Dan aku sangat bersyukur karena telah diberi seorang ibu yang tak pernah hentinya menyayangiku. Juga sesosok ayah yang tak kenal lelah berjuang untuk keluargaku.
Terima kasih untuk diriku...
Terima kasih untuk segalanya. Selanjutnya..
Banyak cara menuju wilayah itu, salah satu caranya adalah dengan mensyukuri apa yang telah diberi, apa yang telah terlewati, dan apa yang akan dihadapi. Mungkin aku belum sampai disana karena aku kurang atau lupa untuk mensyukurinya. Dan berterima kasih merupakan bentuk syukur.
Oleh karena itu aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk "mereka". "Mereka" yang dulu pernah sepermainan denganku. Pernah merasakan masa jaya bersama saat putih-merah begitu dibanggakan. Pernah sama-sama berada disaat masa depan tak pernah dihiraukan. Pernah mencoba untuk "nakal" tapi tidak untuk menjadi "berandal". Pernah berkelahi denganku, walaupun sebenarnya masalah itu sepele. Dari sinilah cikal bakal cerita perjalanan hidup ini dimulai.
Selain "mereka", aku juga ingin dan seharusnya mengucapkan terima kasih untuk "kalian". "Kalian" yang pernah sejalan dan searah. Pernah selangkah dan seirama. Pernah membangunkan jiwa berontak ini. Berontak dari aturan. Berontak dari norma. Berontak dari ketidakadilan, walaupun kita sendiri sering membuat ketidakadilan itu. Baru kali ini aku menangisi sebuah kebersamaan. Menangis karena terharu terhadap kebersamaan ini. Belum pernah sebelumnya ini terjadi dalam hidupku. Aku rindu masa-masa itu. Aku tau, kalian pun sama. Walau tampak linu tapi rindu ini tak bisa dipungkiri. Masa putih-abu menggores warnanya sendiri dalam perjalanan ini untuk ku, pastinya untuk kalian juga. Terima kasih juga untuk "kalian" yang sekarang seperjuangan denganku mencari apa yang biasa disebut jati diri.
Rasa terima kasih ini pun harus saya berikan untuk "itu". Untuk "itu" yang berdiri tegap disana. Yang telah memberikan pelajaran kehidupan yang teramat berharga. Dan setidaknya mulai mengerti akan arti perjuangan. Perjuangan bukan hanya kata. Tindakan pun belum cukup jika tidak diiringi dengan mental yang sekuat baja. Pada gelapnya aku harus menerangkan hati. Pada dinginya aku harus menguatkan diri. Pada tingginya aku harus merendahkan hati. Pada indahnya aku harus bersyukur. Terima kasih karena engkau berdiri dengan gagahnya disana.
Selain itu aku harus juga berterima kasih pada "dia". "Dia" yang menjadi saksi hidup dalam perjalanan hidup ini. Dari aku yang dulu berlumur dan dilumuri dengan noda dosa, hingga sampai saat ini aku yang mulai membersihkan noda-noda itu. Sungguh hina dan tak tau malu ketika aku berani melupakannya untuk tidak berterima kasih. Terima kasih telah melihatku. Terima kasih telah memandangku. Terima kasih telah mendengarku. Terima kasih telah melarangku. Terima kasih karena telah menerima keegoisan dan ke-aku-anku. Aku perlu banyak belajar darimu tentang arti ketulusan yang sejati. Dirimu sudah sendirinya terpahat di satu sisi hati ini. Dan akan selalu ku jaga dan rawat pahatan itu.
Sampai aku berada di titik ini, aku takkan pernah berjalan sampai sini tanpa izin dari "Nya". Pada "Nya" lah harus ku curahkan semua rasa terima kasih ini. Terima kasih telah memberi kedua tangan yang kuat. Terima kasih telah memberi kedua kaki yang kokoh. Terima kasih telah memberi kedua mata yang indah. Terima kasih telah memberi kedua telinga yang sempurna. Terima kasih telah memberi satu mulut dan hidung yang fungsional. Terima kasih juga telah memberi raga yang tegap dan hati yang tegar. Terima kasih telah membawaku kembali ke jalanMu. Mudah-mudahan Engkau selalu menuntunku. Dan aku sangat bersyukur karena telah diberi seorang ibu yang tak pernah hentinya menyayangiku. Juga sesosok ayah yang tak kenal lelah berjuang untuk keluargaku.
Terima kasih untuk diriku...
Terima kasih untuk segalanya. Selanjutnya..
Jawabannya, Ada Di Sana!
"Ada apa sih di gunung, sampe orang-orang begitu niat bawa tas yang besar-besar dan berat dipunggungnya, jalan sebegitu jauhnya dengan beban yang berat, melewati jurang yang curam, suasana yang gelap dan mencekam, ditusuk-tusuk dinginnya malam dan kabut?"
Ada yang bilang, dipuncak gunung tumbuh bunga abadi, bunga yang hanya bisa tumbuh dipuncak gunung. Namanya bunga Edelweiss. Tapi saya ragu, apakah hanya karena bunga tersebut banyak orang yang rela "menyiksa" dirinya untuk mencapai puncak gunung?. Lalu ada yang bilang, pemandangan diatas gunung itu sangat luar biasa. Matahari terbit terlihat sangat indah jika kita berada dipuncak gunung. Saya tetap ragu, apakah keindahan matahari terbit itulah yang menjadi alasan mereka?
Walau engkau mencari jawaban atas pertanyaan itu, sekalipun dari orang yang pernah kesana, pasti jawaban itu tidak dapat memuaskan hatimu. Hingga suatu ketika kau harus merasakannya sendiri. "Kau tak akan pernah tau nikmatnya suatu masakan jika kau tidak pernah melahapnya."
Hal ini pun berlaku pada saya, setelah melewati jalan setapak menanjak, hujan yang turun menemani jejak langkah kaki, perasaan menyerah dan berfikir untuk kembali turun yang selalu menggoda, menggigilnya badan karena dingin yang luar biasa, serta banyak lagi perasaan lainnya yang tak bisa saya ungkapkan. Akhirnya saya bisa merasakan apa yang selama ini membuat saya penasaran.
Tapi bukan mencapai puncak, lalu melihat bunga edelweiss dan matahari terbit yang membuat saya merasa puas dan senang. Ada perasaan lain yang ternyata lebih memuaskan mengisi rongga dada saya. Betapa saya, dengan segala kekurangan dan kelemahan, berbekal tekad, kemauan dan persiapan perbekalan. Merenung ditengah rimba raya, menikmati rasa takut, mensyukuri ciptaan - Nya, mengambil hikmah dari tiap hembusan nafas yang terengah. Mengambil pelajaran dari tiap langkah kecil yang saya ayunkan. Banyak pelajaran besar yang saya ambil dari perjalanan kecil tersebut.
Terima kasih Tuhan atas kesempatannya...
Terima kasih atas alam yang telah Engkau ciptakan...
Terima kasih atas banyak ilmu yang Engkau simpan didalamnya...
Mari Mendaki!!! Selanjutnya..
Ada yang bilang, dipuncak gunung tumbuh bunga abadi, bunga yang hanya bisa tumbuh dipuncak gunung. Namanya bunga Edelweiss. Tapi saya ragu, apakah hanya karena bunga tersebut banyak orang yang rela "menyiksa" dirinya untuk mencapai puncak gunung?. Lalu ada yang bilang, pemandangan diatas gunung itu sangat luar biasa. Matahari terbit terlihat sangat indah jika kita berada dipuncak gunung. Saya tetap ragu, apakah keindahan matahari terbit itulah yang menjadi alasan mereka?
Walau engkau mencari jawaban atas pertanyaan itu, sekalipun dari orang yang pernah kesana, pasti jawaban itu tidak dapat memuaskan hatimu. Hingga suatu ketika kau harus merasakannya sendiri. "Kau tak akan pernah tau nikmatnya suatu masakan jika kau tidak pernah melahapnya."
Hal ini pun berlaku pada saya, setelah melewati jalan setapak menanjak, hujan yang turun menemani jejak langkah kaki, perasaan menyerah dan berfikir untuk kembali turun yang selalu menggoda, menggigilnya badan karena dingin yang luar biasa, serta banyak lagi perasaan lainnya yang tak bisa saya ungkapkan. Akhirnya saya bisa merasakan apa yang selama ini membuat saya penasaran.
Tapi bukan mencapai puncak, lalu melihat bunga edelweiss dan matahari terbit yang membuat saya merasa puas dan senang. Ada perasaan lain yang ternyata lebih memuaskan mengisi rongga dada saya. Betapa saya, dengan segala kekurangan dan kelemahan, berbekal tekad, kemauan dan persiapan perbekalan. Merenung ditengah rimba raya, menikmati rasa takut, mensyukuri ciptaan - Nya, mengambil hikmah dari tiap hembusan nafas yang terengah. Mengambil pelajaran dari tiap langkah kecil yang saya ayunkan. Banyak pelajaran besar yang saya ambil dari perjalanan kecil tersebut.
Terima kasih Tuhan atas kesempatannya...
Terima kasih atas alam yang telah Engkau ciptakan...
Terima kasih atas banyak ilmu yang Engkau simpan didalamnya...
Mari Mendaki!!! Selanjutnya..
Langganan:
Postingan (Atom)