Mr. Lie sudah bersiap dengan segala persiapan dan sejuta kata-katanya, dengan penuh percaya diri dia segera menegakkan tubuh lalu mulai melangkahkan kakinya. Perlahan namun pasti, dia mulai mendekatiku. Di tengah jalan dia dihadang oleh Mr. Trust. Terjadi dialog diantara mereka. Aku tak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan:
Mr. Trust : "Mau kemana kau?"
Mr. Lie : "Aku ingin datang padanya."
Mr. Trust : "TIDAK BOLEH!! Mulai sekarang menjauhlah darinya."
Mr. Lie : "Apa pedulimu? Ini bukan urusanmu. Ini kesenanganku."
Mr. Trust : "Kesenangan bagimu adalah luka baginya. Karena sebenarnya yang diharapkan dia adalah aku, bukan kau!!"
Mr. Lie : "Buktinya, dia senang dengan kedatanganku."
Mr. Trust : "Dia mungkin bisa kau datangi, tapi nuraninya tak pernah menginginkan hadirmu. Jadi, akan selalu ada kegelisahan ketika kau bersama dia."
Mr. Lie : "Hmm, aku hanya ingin menyenangkan dia saja koq."
Mr. Trust : "Kalau kau ingin menyenangkan dia, silahkan jauhi dia, biarkan aku bersamanya. Percayalah, hanya aku yang dapat memberikan ketentraman jiwa."
Mr. Lie : "Kalau begitu, bolehkah jika sesekali aku menghampirinya karena rindu?"
Mr Trust : "TIDAK!!"
Mr. Lie : "Walaupun aku rindu?"
Mr. Trust : "TIDAK BOLEH!! Ini demi kebaikan dia."
Mr. Lie : .....
Entah apa yang mereka bicarakan hingga Mr. Lie tidak jadi menghampiriku. Aku tak tau apa yang mereka bicarakan karena aku tidak mendengar pembicaraan mereka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar