Salah satu alamat hidup yang ingin aku singgahi adalah jalan kebebasan. Kebebasan yang hakiki. Dan apabila aku kesana, berarti aku harus berada di wilayah kenikmatan. Kenikmatan dan kebebasan itu memang terkait tapi tidak saling mempengaruhi. Karena nikmat belum tentu bebas dan bebas belum tentu nikmat. Sebelum menuju ke jalan kebebasan itu, aku harus sudah berada diwilayah kenikmatan.
Banyak cara menuju wilayah itu, salah satu caranya adalah dengan mensyukuri apa yang telah diberi, apa yang telah terlewati, dan apa yang akan dihadapi. Mungkin aku belum sampai disana karena aku kurang atau lupa untuk mensyukurinya. Dan berterima kasih merupakan bentuk syukur.
Oleh karena itu aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk "mereka". "Mereka" yang dulu pernah sepermainan denganku. Pernah merasakan masa jaya bersama saat putih-merah begitu dibanggakan. Pernah sama-sama berada disaat masa depan tak pernah dihiraukan. Pernah mencoba untuk "nakal" tapi tidak untuk menjadi "berandal". Pernah berkelahi denganku, walaupun sebenarnya masalah itu sepele. Dari sinilah cikal bakal cerita perjalanan hidup ini dimulai.
Selain "mereka", aku juga ingin dan seharusnya mengucapkan terima kasih untuk "kalian". "Kalian" yang pernah sejalan dan searah. Pernah selangkah dan seirama. Pernah membangunkan jiwa berontak ini. Berontak dari aturan. Berontak dari norma. Berontak dari ketidakadilan, walaupun kita sendiri sering membuat ketidakadilan itu. Baru kali ini aku menangisi sebuah kebersamaan. Menangis karena terharu terhadap kebersamaan ini. Belum pernah sebelumnya ini terjadi dalam hidupku. Aku rindu masa-masa itu. Aku tau, kalian pun sama. Walau tampak linu tapi rindu ini tak bisa dipungkiri. Masa putih-abu menggores warnanya sendiri dalam perjalanan ini untuk ku, pastinya untuk kalian juga. Terima kasih juga untuk "kalian" yang sekarang seperjuangan denganku mencari apa yang biasa disebut jati diri.
Rasa terima kasih ini pun harus saya berikan untuk "itu". Untuk "itu" yang berdiri tegap disana. Yang telah memberikan pelajaran kehidupan yang teramat berharga. Dan setidaknya mulai mengerti akan arti perjuangan. Perjuangan bukan hanya kata. Tindakan pun belum cukup jika tidak diiringi dengan mental yang sekuat baja. Pada gelapnya aku harus menerangkan hati. Pada dinginya aku harus menguatkan diri. Pada tingginya aku harus merendahkan hati. Pada indahnya aku harus bersyukur. Terima kasih karena engkau berdiri dengan gagahnya disana.
Selain itu aku harus juga berterima kasih pada "dia". "Dia" yang menjadi saksi hidup dalam perjalanan hidup ini. Dari aku yang dulu berlumur dan dilumuri dengan noda dosa, hingga sampai saat ini aku yang mulai membersihkan noda-noda itu. Sungguh hina dan tak tau malu ketika aku berani melupakannya untuk tidak berterima kasih. Terima kasih telah melihatku. Terima kasih telah memandangku. Terima kasih telah mendengarku. Terima kasih telah melarangku. Terima kasih karena telah menerima keegoisan dan ke-aku-anku. Aku perlu banyak belajar darimu tentang arti ketulusan yang sejati. Dirimu sudah sendirinya terpahat di satu sisi hati ini. Dan akan selalu ku jaga dan rawat pahatan itu.
Sampai aku berada di titik ini, aku takkan pernah berjalan sampai sini tanpa izin dari "Nya". Pada "Nya" lah harus ku curahkan semua rasa terima kasih ini. Terima kasih telah memberi kedua tangan yang kuat. Terima kasih telah memberi kedua kaki yang kokoh. Terima kasih telah memberi kedua mata yang indah. Terima kasih telah memberi kedua telinga yang sempurna. Terima kasih telah memberi satu mulut dan hidung yang fungsional. Terima kasih juga telah memberi raga yang tegap dan hati yang tegar. Terima kasih telah membawaku kembali ke jalanMu. Mudah-mudahan Engkau selalu menuntunku. Dan aku sangat bersyukur karena telah diberi seorang ibu yang tak pernah hentinya menyayangiku. Juga sesosok ayah yang tak kenal lelah berjuang untuk keluargaku.
Terima kasih untuk diriku...
Terima kasih untuk segalanya.
1 komentar:
aku yang datang dari masa putih-abu, "Terima kasih juga! aku bangga denganmu wahai saudaraku!"
Posting Komentar