Disini. Ya, Disini. Dimana matahari yang terkadang kurang bersahabat denganku tidak mungkin muncul. Karena aku disini sedang bersama malam. Aku tidak sendirian. Setidaknya ada 3 kawanku disini. Sekalian ajang reuni bagi kami. Aku, Kopi Hitam, Eddie Vadder, dan Hujan. Kami berempat menghabiskan malam dengan obrolan yang santai.
Kopi Hitam bertanya padaku, "Kemana aja?"
"Ada", aku jawab santai.
"Kau rindu aku yah? Rindu pertemuan ini?", Hujan bertanya dengan nada percaya diri dan sedikit narsis.
Tidak langsung ku jawab. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu memandanginya, dan mencoba menjawab jujur, “I'm really miss this time”.
Mereka terlihat senyum, mungkin mereka merasakan apa yang kurasakan. Lalu hujan bertanya lagi, "Kenapa baru sekarang kau menemui Eddie Vadder?"
"Iya, kenapa baru sekarang kau menemuiku?”, yang dibicarakan pun ikut nimbrung.
"Mungkin baru sekarang waktunya.” Aku mulai membeberkan kerinduan, “Hmm, aku tak mau malam ini habis.”
“Ingatlah kawan, dimana ada siang pasti ada malam. Ada naik pasti ada turun. Ada awal pasti ada akhir. Pertemuan kita ini pun pasti akan berakhir”, Kopi Hitam bicara dengan bijak menasehatiku. “Aku pun akan tidak panas lagi dan akan habis", dia melanjutkan.
Dengan tampang yang sedikit mengeluh Hujan meneruskan, “Aku pun akan pergi lagi, tidak selamanya aku ada disini”
"Benar juga, tak ada yang abadi. Tapi sudikah kalian menemaniku sampai malam ini berakhir? Setidaknya sampai aku terlelap?"
"SIAP!!" Mereka bertiga serentak menjawab.
Kami banyak bicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hingga tak terasa matahari akan kembali bertugas dan rasa kantuk pun mulai mendatangiku. Ku rebahkan badan dikasur tanpa pamit pada Kopi Hitam, Hujan, dan Eddie Vadder. Si Kopi pun sudah dingin dan tersisa ampasnya saja. Sang hujan dengan perlahan mulai pergi dan menghilang. Mungkin hanya Eddie Vadder yang akan setia menemaniku. "Sudah, tutup matamu. Aku tak kan pergi sebelum baterai ini habis", Eddie Vadder rupanya tau maksudku yang sudah mengantuk ini.
"Kurasa teman kita ada yang tidak datang?", aku bertanya padanya.
"Siapa?"
"Rokok"
"Sudahlah, matahari sebentar lagi tiba"
"Eddie?"
"Apa?"
"Terima kasih yah"
Eddie Vadder tak menjawab. "Eddie?”, tanyaku lagi.
"Apa?"
"Sampaikan rasa terima kasihku juga untuk Kopi Hitam dan Hujan, katakan pada mereka bahwa aku senang malam ini. Salamkan juga salamku untuk Rokok."
"Iya. Sekarang, segeralah kau tidur."
"Eddie?"
"Apa lagi?"
"Kapan kita bisa reuni seperti ini lagi?"
".....”
"Ya sudah, aku tidur"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar